intro post

perkiraan buat header
Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Recent in Sports

Home Ads

Facebook

Comments

Ads

Pages

Random Posts

Latest Products

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

90 TAHUN  yang lalu, tepatnya 3 Maret 1924 lalu secara resmi Khilafah Islam dihapus. Umat Islam pernah mengalami masa kejayaan pada tahun 750 – 1500. Setelah masa itu secara perlahan umat Islam mengalami degradasi yang puncaknya terjadi pada 3 Maret 1924 dimana Mustafa Kemal resmi mendirikan Republik Turki yang sekuler menggantikan Khilafah Utsmani.
Kekalahan Di Gerbang Vienna
Pada jaman Khilafah Abbasiyah, umat Islam menikmati kejayaan sains dan teknologi. Lalu pada jaman Khilafah Utsmaniyah, umat Islam mendapati wilayah terluas. Pada masa Sultan Fatih Mehmed II dan Khalifah Suleyman Qanuni, Islam sudah menjadi sangat kuat bahkan menguasai darat dan lautan. Namun sayangnya hal ini tak dimanfaatkan untuk memperbaiki pemahaman Islam. Terlena oleh berbagai kemenangan dan kemewahan hidup, pasukan Islam tertahan dan kalah di Gerbang Vienna pada tahun 1683. Dan itulah saat terakhir umat Islam melakukan jihad, titik tolak dari kemunduran umat Islam. Dan ini menjadi awal dari bangkitnya barat.
Awal Kebangkitan Barat
Saat jihad sudah ditinggalkan demi kesenangan dunia, barat mulai melakukan ekspansi militer dengan motonya 3G (Gold-Gospel-Glory). Barat mulai bergerak untuk menjajah negeri muslim. Penyebab lain dari runtuhnya kejayaan umat Islam adalah ditinggalkannya bahasa arab yang merupakan bahasa Islam (dan juga dapat menjadi bahasa pemersatu umat Islam). Dengan ditinggalkannya bahasa arab, maka semakin lemahlah pemahaman Islam.
Sultan-Sultan Mamalik pada awalnya mereka merupakan budak-budak yang akhirnya menggantikan bangsa Arab menjadi pemimpin umat Islam (Khilafah Islam). Masalah muncul sebab kaum Mamalik bukanlah orang arab dan kemudian tidak menjadikan bahasa arab sebagai bahasa ibu. Lalu terjadilah pemisahan “potensi Islam” dan “potensi bahasa arab” yang merupakan pokok dari pengetahuan dan ilmu dalam Islam. Rendahnya pemahaman Islam akibat ditinggalkannya bahasa arab dapat terlihat ketika Al-Qaffal menutup pintu ijtihad, sehingga umat resah.
Hal ini terus berlanjut hingga sekarang dimana di banyak negeri Islam, umat Islam tidak menjadikan bahasa arab sebagai bahasa ibu. Dan akhirnya munculah kasus-kasus seperti ini, “Apakah TV halal atau haram?”, “Bolehkah Al-Qur’an dicetak?” dan semisal.
Kemunduran cara berpikir umat Islam semakin lengkap ketika diserang oleh filsafat Persia dan Yunani yang mencampuri cara berpikir umat Islam. Pengaruh filsafat Persia sangat nyata dalam pemikiran tasawuf. Penyucian diri dengan cara menyiksa fiksi sebagai ganti ketinggian ruh. Filsafat Yunani juga secara nyata menyerang pemahaman tentang taqdir, qadha-qadar, hingga melahirkan fitnag khalqul qur’an gaya mu’tazilah.
Dan ketika pemahaman Islam melemah, ketakwaan kepada Allah memudar. Barat mulai berani meningkatkan serangan-serangannya. Akhir abad 16, Dimulai di Malta para misionaris mulai mengacaukan pemahaman umat Islam dengan membuat umat Islam ragu akan ajaran Islam. Perancis, Inggris serta Amerika Serikat juga bergabung menghancurkan umat Islam melalui paham nasionalisme.
Paham nasionalisme menyebar dan membuat umat Islam berpikir tidak lagi umat yang satu, yakni umat Islam, melainkan berpkir sesuai suku bangsa mereka seperti bangsa Arab, Turki, Mesir dan lain-lain. Salah satu tempat paham nasionalisme diajarkan adalah di Beirut. Dimana American University of Beirut didirikan pada tahun 1866.
Penjajahan Barat
Selain itu keruntuhan Khilafah juga terkait serangan fisik, peperangan dan imperialisme serta diikuti oleh perjanjian-perjanjian. Perjanjian Karlowitz 1699, Passarowitz 1718, Belgrade 1739, Küçük Kaynarca 1774, semuanya menghabisi wilayah kekuasaan Khilafah Utsmani.
Rusia mengambil wilayah Khilafah di bagian utara sampai berbatasan dengan laut hitam pada masa Catherine. Perancis menjajah Mesir pada tahun 1698, Aljazair pada tahun 1830, Tunisia pada tahun 1881, Maroko pada tahun 1912. Inggris menjajah India, China Barat, Sudan dan juga merebut Mesir dari Perancis. Wilayah umat Islam bagaikan hidangan yang diperebutkan.
Umat Islam semakin terpuruk akibat konflik internal yang terjadi. Pasukan Yeniseri sering melakukan pemberontakan. Dan akhirnya pasukan ini dibubarkan oleh Khalifah Mahmud II pada 1826. Akibatnya kekuatan umat Islam semakin berkurang karena tiadanya pasukan.
BERSAMBUNG
 sumber : islam pos


Sore Itu sembari menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Kulihat seseorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan tertutup sedang duduk disamping masjid. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang juga. Aku mencoba menegurnya dan duduk disampingnya, mengucapkan salam, sembari berkenalan.

Dan akhirnya pembicaraan sampai pula pada pertanyaan itu. “Anti sudah menikah?”.
“Belum ”, jawabku datar.

Kemudian wanita berjubah panjang (Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?”
Pertanyaan yang hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih hendak melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan.


“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.
“Menunggu suami” jawabnya pendek.

Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “Mbak kerja di mana?”

Entah keyakinan apa yang membuatku demikian yakin jika mbak ini memang seorang wanita pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“Kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah PINTU AWAL kita wanita karir yang bisa membuat kita lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Saudariku, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah hanya ingin didatangi oleh laki-laki yang baik-baik dan sholeh saja.

“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari dan es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Kamu tahu kenapa ?

Waktu itu jam 7 malam, suami saya menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Setibanya dirumah, mungkin hanya istirahat yang terlintas dibenak kami wanita karir. Ya, Saya akui saya sungguh capek sekali ukhty. Dan kebetulan saat itu suami juga bilang jika dia masuk angin dan kepalanya pusing. Celakanya rasa pusing itu juga menyerang saya. Berbeda dengan saya, suami saya hanya minta diambilkan air putih untuk minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendiri lah !!”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya.

Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya (kami memang berkomitmen untuk tidak memiliki khodimah)? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.

Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air putih saja saya membantahnya. Air mata ini menetes, air mata karena telah melupakan hak-hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.

“Kamu tahu berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 rb/bulan. Sepersepuluh dari gaji saya sebulan. Malam itu saya benar-benar merasa sangat durhaka pada suami saya.

Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya dengan ikhlas dari lubuk hatinya. Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho”, begitulah katanya. Saat itu saya baru merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong dan durhaka pada nafkah yang diberikan suami saya, dan saya yakin hampir tidak ada wanita karir yang selamat dari fitnah ini”

“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu sering begitu susah jika tanpa harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya" Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya justru tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Sesuai dugaan saya, mereka malah membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain.”

Aku masih terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

“Kak, bukankah kita harus memikirkan masa depan ? Kita kerja juga kan untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini mahal. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah.

Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali mengalir, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“anti tau, saya hanya bisa menangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, Demi Allah bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya sudah DIPANDANG RENDAH olehnya.

Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan ?
Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan ?

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya.
Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.
Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya.

Saya berharap dengan begitu saya tak lagi membantah perintah suami saya. Mudah-mudahan saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan seperti itu.

Disaat kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tetapi suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.

Suatu saat jika anti mendapatkan suami seperti suami saya, anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku.

Kulihat dari kejauhan seorang laki-laki dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, wanita itu meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….
Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling berkesan dalam hidupku. Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..Subhanallah..Walhamdulillah..Wa Laa ilaaha illallah...Allahu Akbar

Semoga pekerjaan, harta dan kekayaan tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya..

Sumber : http://media.abatasa.com

Dalam perjalanan kehidupan gemilang Nabi Muhammad bin Abdullah, kita tidak bisa lepas dari sesosok manusia pilihan Allah yang satu ini. Seorang pemuda parlente yang cerdas, kaya dan juganecis. Ia merupakan dambaan bagi setiap pembesar Quraisy kala itu. Pada setiap pertemuan bangsawan Quraisy di Darun Nadwah, kehadirannya selalu dinanti. Dan ketika ia datang, maka dipersilahkannya duduk di sana untuk berbincang bersama. Para pembesar Quraisy berharap, pemuda ini kelak akan menjadi penerus mereka.
Pemuda yang satu ini merupakan keturunan orang berpunya. Rambutnya selalu tersisir rapi, pakaiannyapun berasal dari kain yang halus. Ditambah lagi dengan kecerdasan dan ketampanannya. Pemuda ini , nyaris menjadi idaman setiap perawan di jazirah arab kala itu.
Ketika petinggi Quraisy sibuk membicarakan perihal dakwah Rasulullah, ia dengan seksama mengikuti tiap detailnya. Hingga kemudian watak kepemudaannya muncul : Penasaran. Ya, ia kemudian penasaran untuk mengetahui lebih jauh tentang Muhammad Rasululah dan ajaran yang dibawanya. Allah membimbingnya menuju cahaya. Maka dengan ini, kesempurnaan fisiknya terimbangi dengan tersinari hatinya oleh cahaya Ilahi.
Atas izin dari Allah, ia mengetahui bahwa Nabi dan para sahabatnya biasa melakukan liqo’-pertemuan- di rumah Arqam bin Abil Arqam. Jauh dan terpencilnya rumah tersebut sama sekali tidak menyurutkan langkah sang pemuda untuk menuju ke sana. Hingga kemudian, tepatnya ketika fajar hendak menyapa, sampaialah ia di dalam majelis surga itu. Disana , Rasulullah membacakan Al Qur’an dan menyampaikan risalah dakwah yang beliau emban. Diriwayatkan, sang pemuda yang haus akan kebenaran ini ‘hampir melayang’ lantaran sangat tenang ketika mendengar bacaan Al Qur’an dari Nabi yang menyejukkan jiwa. Maka, Nabipun mengulurkan tangannya sehingga tangan mereka saling bercengkerama dalam keromantisan imani.
Waktu terus berjalan, ia tetap mendatangi majlis Nabi itu dengan mengendap-endap. Bukan lantaran takut diketahui oleh keluarga dan pembesar Quraisy, melainkan lebih pada ‘strategi dakwah’ yang diinstruksikan oleh Nabi.
Tersebutlah dalam sebuah riwayat, seorang Quraisy bernama Usman bin Thalhah yang mendapati sang pemuda berkali-kali mendatangi rumah Arqam. Ia juga mendapati ketika sang pemuda melakukan ibadah (shalat) sebagaimana ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah. Maka, ia mengadu. Mengadu yang maknannya khawatir. Apa yang dilihatnya itu diadukan kepada Ibu sang pemuda dan pembesar-pembesar Quraisy.
Maka, dipangillah sang pemuda untuk menghadap di tengah-tengah pembesar Quraisy. Di sana ada ibunda tercintanya, Khunas binti Malik. Di sana, ia diadili.
Pantang mundur sebelum babak belur. Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Mungkin, kalimat itu yang tepat untuk melukiskan sikap sang Pemudah Parlente itu. Ia mengakui semua tuduhan tersebut, bahwa ia mendatangi rumah Arqam, mengikuti majlis Nabi dan melakukan sholat sebagai konsekuensi dari apa yang diikutinya.
Ibu kandung yang seharusnya melindunginya, justru berbalik menyerangnya lantaran malu kepada pembesar Quraisy lainnya, ia langsung naik pitam mendengar pengakuan tulus anak tercintanya. Ketika sang anak menyampaikan ajaran yang diikutinya, Bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah Selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Utusan Allah, serta merta sang ibu menghampiri anaknya dan hendak menampar habis-habisan wajah tampan anaknya. Dengan ke-Maha Kasih Sayangan Allah, sang Ibu mengurungkan niatnya. Wajah teduh sang anak sunguh melunakkan hati sang ibu, sedurhaka apapaun dia kepada anaknya. Sebagai konsekuensi dari keimanannya, sang ibu memberi ‘hadiah’ kepada anak kesayangannya itu : dikurung tanpa diberi makan. Hadiah yang sungguh ‘biadab.’

Hijrah ke Habasyah
Pengurungan yang dialami oleh Pemuda itu berlanjut hingga diberlakukannya perintah Rasulullah untuk hijrah ke Habasyah yang pertama, sekitar tahun kelima setelah kenabian, tepatnya pada bulan Rajab. Rombongan hijrah ini terdiri dari dua belas kaum lelaki dan empat kaum wanita.
Setelah mendengar kabar perintah Nabi tersebut, ia mencari cara untuk mengelabui ibu dan penjaga selnya sehingga bisa keluar. Dengan kecerdasannya, tipu muslihatnya berhasil. Ia keluar dari tahanan ibunya dan kemudian bergabung bersama kafilah dakwah menuju Habsyi. Disana, pemuda ini tinggal bersama kaum muhajirin lainnya. Mereka hidup secara aman, tanpa tekanan sebagaimana dialami mereka ketika berada di Makkah.. Hingga kemudian pulang menuju mekkah, sesuai titah Rasulullah.

Pertemuan Terakhir dengan Ibunda
Kisah ini merupakan sebuah sekuel sejarah peradaban tentang watak keras seorang anak dan ibu. Dimana keduanya bagai langit dan bumi. Tidak bisa disatukan dan cenderung saling menguatkan pendapatnya masing-masing.
Sepulangnya dari Habasyah, sang pemuda tetap tidak bergeming dengan kudeta dari ibu tercintanya. Dengan tidak mengurangi rasa hormatnya, ia terus berbakti. Berdakwah, menasehati dan juga mendoakan agar ibunya bergabung dalam kafilah dakwah Nabi. Namun, lagi-lagi kita disadarkan oleh Allah. Bahwa hidayah mutlak milikNya. Kita tidak akan bisa membagikannya secara gratis kepada siappaun yang kita ingini. Meskipun, yang kita ingin beri hidayah adalah ibu. Orang yang paling berharga kehadirannya, bagi siapapun.
Tibalah masa perpisahan itu. Sang anak terperanjat ketika ibunya melontarkan sebuah kalimat usiran. Kalimat yang maknanya ‘perceraaian’ antara anak dan ibu kandungnya. Kata sang ibu geram, “ Pergilah sesuka hatimu! Sesungguhnya aku bukanlah Ibumu lagi!” dengan tidak mengurangi rasa hormat sedikitpun sebagai anak, sang pemuda menjawab dengan santun, tegas dan berwibawa, “ Wahai Ibunda! Nanda telah menaruh kasihan kepada Bunda dan sudah menasehati Bunda. Karena itu, saksikanlah bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.” Sebuah jawaban telak yang maknanya, ‘ Lho Jual, Gua Beli.’ Dengan geram, sang ibu menjawab, “Demi Bintang! Sekali-kali aku tidak akan masuk ke dalam agamamu. Otakku bisa jadi rusak dan buah pikiranku tidak lagi diindahakn oleh orang lain.”
Dan perpisahan itu adalah niscaya. Sebagaimana perpisahan Nuh dengan Istri dan Anaknya, antara Luth dengan Istrinya, Aisyah dengan Fir’aun juga perpisahan antara Muhammad dengan Abu Thalib. Karena keimanan tidaklah mungkin bersatu dengan kekafiran. Kebenaran, selamanya akan berbalikan badan dengan keburukan. Cahaya, selamanya akan menajdi lawan kegelapan. Maka pemuda itu, resmi ‘bercerai’ dengan ibu kandung yang sangat diingininya mendapat hidayah. Semoga kita terlindung dari hal demikian.

Syahidnya Sang Pemuda
Waktu terus berjalan. Sang pemuda dengan setia mendampingi Nabi, hingga beliau termasuk dalam kafilah dakwah yang hijrah ke Madinah dan membentuk sebuah Pemerintahan Islam di sana. Kegigihannya dalam menegakkan kalimat Allah sudah tidak bisa diragukan lagi. Dan akhir hidupnya, semakin menegaskan bahwa beliau adalah salah satu Ahli Surga, Ia termasuk dalam barisan pemuda-pemuda yang dirindukan surga.
Medan Uhudpun bertalu-talu. Mengundang gairah para sahabat yang merindu syahid. Tak terkecuali, semua yang tidak berhalangan turut serta di dalam barisan syuhada’ itu. Mereka keluar dari kota Madinah dan menyongsong musuh di gunung Uhud. Di sinilah, kisah indah itu bermula, sang pemuda syahid. Ia menemui Allah dengan senyum kemenangan dambaan setiap insan yang beriman.
Tatkala pasukan muslim kocar kacir lantaran ulah beberapa sahabat yang ‘gila harta’, dimana pasukan musuh memburu habis-habisan rombongan yang diduga akan menyelamatkan Nabi, maka sang pemuda menaikkan tinggi-tinngi panji yang dibawanya. Ia berteriak untuk memancing perhatian musuh. Agar musuh berbalik mengejar dirinya dan mengacuhkan rombongan Nabi. Di sini, sikap kesatriaannya terlihat sangat jelas. Ia tak takut mati, sedikitpun. Ia bahkan terlihat seperti singa yang gagah. Singa yang nampaknya sudah bisa mencium surga sementara ia masih berada di dunia. Ia yang sendiri, nampak seperti dibantu oleh ribuan malaikat. Ia berhasil mengalahkan banyak pasukan musuh yang menyergapnya. Sampai kemudian datanglah seorang musuh bernama Ibnu Qumaiah. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha sekuat mampu mempertahankan panji, sembari berniat agar Nabi berhasil lari lebih jauh lagi dari kejaran musuh. Ia sama sekali tidak megkhawatirkan nyawanya. Yang ada dalam benaknya hanyalah surga dan keselamatan Nabi.
Ibnu Qumaiah berhasil memotong tangan kanan sang pemuda. Ia tidak bergeming. Panji yang dipegannya kemudian dialihkan menuju tangan kirinya. Ia mendekapnya, sementara telapak tangan kirinya masih memegang pedang dan mengayunkannya. Sang durjana tetap saja bernafsu untuk membunuh sang pemuda, sabetan pedang keduanya berhasil memotong tangan kiri sang pemuda. Maka panji yang ada kemudian ia dekap. Sekuat dekapannya, dengan sepenuh jiwa. Akhirnya, dengan sebilah tombak, sang pemuda tersenyum. Tombak itu ditancapkan oleh Ibnu Qumaiah sehingga putus di dalam tubuh sang pemuda.. Tombak itu telah menjadi perantara pertemuannya dengan kekasih sejatinya, Allah Subhanahu Wa Ta’alaa. Wajahnya menelungkup ke tanah dengan basuhan darah sucinya. Ia syahid di medan uhud. Diriwayatkan, setiap kali tangannya terpotong oleh tebasan pedang musuh, ia selalu berkata, “ Muhammad hanyalah utusan Allah. Dan telah berlalu Nabi-Nabi  yang serupa dengannya.”
Uhudpun berakhir. Rasul bersedih karena sebagian besar sahabatnya syahid. Termasuk sang paman Hamzah bin Abdul Muthalib yang syahid lantaran bidikan tombak seorang budak sewaan Hindun. Beliau mengelilingi medan Uhud dengan wajah sedih. Sedih karena beliau ditinggal oleh para pembela agama yang diembannya. Ketika menjumpai jasad Sang Pemuda yang tertelungkup, beliau membacakan firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 23, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).”
Allahu Akbar walillahil hamd! Pemuda itu telah menunaikan janjinya. Ia telah menjual dirinya untuk Agama Allah. Ia telah menebus nyawanya dengan kesyahidan yang mengharukan. Ia telah membuat kita berdecak kagum dengan keberaniannya. Ia selayaknya, menjadikan kita menangis sejadi-jadinya, jika ternyata kita tidak mengenal siapa Pemuda mulia itu. Sahabat yang berjiwa muda, berparas gagah dan dirindu surga. Sang Pemuda Parlente  itu adalah Mush’ab bin Umair Radhiyallahu ‘Anhu. Semoga Allah menerima semua kemuliaan beliau. Aamiin..
Akhirnya, sahabat Khabbab bin Al Arrat meriwayatkan, “Tak sehelai kainpun untuk menutupi jasadnya selain burdah. Andai ditaruh di atas kepala, terbukalah kedua kakinya. Andai ditaruh dikakinya, terbukalah kepalanya. Maka Nabi bersabda, ‘ Tutupkan burdah itu di kepalanya dan tutupi kakinya dengan rumput Idzkir.”
Mush’ab yang tampan telah memberikan contoh. Bahwa iman bukan setengah-setengah. Ia harus diperjuangkan, meskipun harus berpisah dengan keluarga yang dicintai, harta yang dibanggakan, pun nyawa yang tinggal satu-satunya. Dari Mush’ab kita juga belajar, bahwa bakti kepada orang tua harus terus dilakukan, meskipun orang tua kafir. Semoga kita bisa meneladani Mush’ab, sekuat kemampuan kita. Mush’ab, aku rindu padamu.
Sumber : http://www.fimadani.com
Bismillahirrohmanirrohiim.,.

“Dalam kebebasan yang begitu indah bersama Tuhan apalah artinya surga” (Rabi’ah Adawiyah).

"Di sudut kota Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulaibib. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong melarat. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

Zulaibib kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata:”Maukah engkau saya nikahkan dengan putri dari kalangan Ansyar? “

“saya belum berani ya Rasul, putri sahabat itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.”

Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. “Zulaibib, tidakkah engkau menikah?”. Dan Zulaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, dan begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Rasulullah menarik lengan Zulaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. “Aku ingin menikahkan putri kalian.” kata Rasulullah pada tuan rumahnya.

“Betapa indahnya dan betapa barakahnya rumah kita”, begitu tuan rumah menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabilah calon menantunya. ” Ooh.. Ya Rasulullah,ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyinari di rumah kami.”

” Bukan untukku, tetapi ku pinang putrimu untuk Zulaibib” jawab Rasulullah.

“Zulaibib?”, sahut pemimpin ansyar tak percaya.

“Ya. Untuk Zulaibib.” Rasulullah menyakinkan.

” Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas panjang. “Saya harus meminta pertimbangan istri dan putri saya tentang hal ini”

“wahai suamiku?’, istrinya berseru, “Bagaimana bisa? Zulaibib berwajah jelek, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Zulaibib”

Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Dan akhirnya sang putri dari balik tirai berkata anggun, “Siapa yang meminta?”

“Rasulullah wahai putriku” jawab mereka.

“Ayah dan bunda, jika memang ia didatangkan karena permintaan Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku ikhlas menjadi istrinya. Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”.

Putri yang shalehah itu lalu membaca sebait ayat: “Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah mereka telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)

Mendengar kata2 gadis itu Rasulullah dengan tertunduk berdoa untuk gadis shalihah tersebut, ” Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau jadikan hidupnya susah dan bermasalah..” (Doa yang indah.)

Akhirnya peminpin ansyar dan istrinya menyetujui. pagi itu juga pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.

Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Adinda di wajahmu terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu? dan apakah kita termasuk suatu tanda pasangan surga”

“maksud kakanda..??” istrinya balik bertanya.

” Bukankah syukur dan sabar adlh ciri2 yg dirindu suga, aku selalu bersyukur telah mendapatkan istri seperti adinda, dan adinda selalu bersabar telah mendapatkan suami spt aku”.

Dengan tersipu malu istrinya menyela ” engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam ini yang dinantikan para pengantin.”

Zulaibib tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu berkali-kali seakan kejadian ini hanyalah mimpi belaka. Tiba-tiba terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.

Zulaibib masuk kembali masuk rumah dan menemui istrinya. “Duhai istriku yang senyumnya mempesona hingga ke relung jiwa, begitu besar cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku padamu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang. sekiranya Allah mengetahui semua tujuan jalan hidup kita ini.”

Istrinya menyahut, ” Pergilah wahai suamiku, betapa besar pula kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”

***

Zulaibib lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid…tak disangka sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulaibib terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang bertebangan di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tersenggal, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi, belum sempat menikamati malam pertamanya. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya….Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.

***

Senja datang..perang sudah usai

Angin mendesah, sepi…

Gemerlap alunan doa mengiris hati..

Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Ketika perang telah usai, Rasulallah Saw bertanya kepada para sahabat: “Siapa diantara sahabat kalian yang sekarang tidak keliatan dan mungkin menjadi syahid?” Para sahabat pun menyebutkan beberapa nama, tetapi tidak menyebut nama Zulaibib karena dia belum banyak dikenal.” Sepertinya kalian kehilangan seseorang?” Tanya Rasulullah.

“Tidak Ya Rasulullah!”, jawab para sahabat .

“Sepertinya kalian kehilangan seseorang?”, Rasul bertanya lagi. Kali ini lebih tegas lagii.

“Tidak Ya Rasulullah!”. sebagian menjawab dengan terbata-bata dan tak seyakin tadi. Beberapa sahabat menengok ke kiri dan ke kanan.

Rasulullah menghela nafasnya. “Sepertinya aku justru kehilangan Zulaibiib, marilah kita bersama mencarinya!”

Maka para sahabat sadar dan mereka pun mencarinya, ternyata mereka menjumpainya dalam keadaan telah gugur. sedang di sebelahnya terdapat tujuh mayat musuh yang berhasil di bunuhnya sebelum dia gugur semoga Allah SWT melimpahkan ridho-NYA kepada Zulaibib

Rasulullah mengusap tanah dari wajah dan mencium serta menangis dan bersbda: “engkau adalah bagian dariku dan aku bagian darimu”.( HR.muslim dan Ahmad)”

Rasulullah tertunduk di samping jasad Zulaibib. Para sahabat terdiam membisu. Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti kmbali menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau. Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.

” Wahai Rasulullah, mengapa engkau menanigis ketika melihat jasad Zulaibib?

Jawab Rasulullah “Aku menangis karena mengingat Zulaibib. Oo.. Zulaibib, pagi tadi engkau datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam pertama, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”

“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.

“Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulaibib,” Jawab Rasulullah.

“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.

“Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulaibib, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulaibib. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya…”

*** Tapi jauh sekali dari tempat itu, di atas tanah yang berbeda dan di dalam udara yang tak sama, sebuah lampu di teras menyala. Sebuah halaman kamar seorang wanita duduk ditemani bunga-bunga di sekelilingnya. Dengan menyandarkan punggung di tiang beranda, istri Zulaibib menanti sang suami yang tak kunjung datang. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta Segala Maha Rasa.

Malam menjelang… Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata. Lambat-laun ia seperti melihat Zulaibib datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan.

Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini bila aku menyebut namamu akan mengguman cemburu padamu…dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku..”.

Istri Zulaibib, terdiam. Tak lama setelah itu, matanya mulai berkaca-kaca dan airmata kasih yang teramat dalam itupun segeralah tumpah. Ada sesuatu yang mengingang disana.. Sepertinya tak ingin lepas ia dari mengingat acara pernikahan tadi pagi.. Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir.. Ia menggerakkan bibirnya..

Tak lama, mengalirlah sebuah doa yang terdengar sayup dan lembut. Suara yang teramat pilu menembus, menusuk hingga ke dinding hati.

“Suamiku doaku selalu menyertaimu, aku sangat mencintaimu… dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita.. aku ikhlas….”

*******Selamat Zulaibib, selamat bagi orang2 yang shiddiq, selamat bagi orang-orang yang ikhlas dan selamat bagi orang-orang yang menempuh jalan Allah.

Sumber : http://pemikir84.wordpress.com

Dimanakah generasi pemuda islam yang prestatatif di zaman ini, yang mampu menggentarkan para musuh dengan teriakan takbir yang lantang ?

"Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk" [ Al Kahfi:13] 




“Di belakang kita lautan, di depan kita musuh. Kita tidak dapat melarikan diri. Demi Allah Subhanahu Wata’ala Subhanahu Wata’ala, kita datang ke bumi Andalusia untuk menjemput syahid atau meraih kemenangan”
Thariq Bin Ziyad, Panglima penakluk Andalusia


HAMPIR dalam semua literatur selalu menjelaskan dakwah bukanlah sesuatu yang berjalan mulus. Sebab pada dasarnya, dakwah adalah bahasa pergerakan yang penuh rintangan, fitnah dan tantangan yang tak sedikit. Kita dapat melihat bagaimana sejarah hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Pembunuhan dan ancaman kematian membayang dalam kehidupan sehari-hari sebagai konsekuensi logis atas kepemimpinan dakwah yang dijalaninya selama 36 tahun. Untuk itu, anda yang mengharapkan pujian, pengakuan, jabatan dan  segala kemanisan hidup, dapat dipastikan anda berada di arah yang salah jika mengharapkan itu semua datang di jalan dakwah.

Seperti kisah Thariq bin Ziyad, seorang budak belia dari suku Barbar di Afrika. Pertemuan dengan dakwah Islam membawanya ke medan perang, menghabiskan hidup bersama jihad fisabilillah. Siapa sangka, takdir Allah Subhanahu Wata’ala   membawanya ke bumi Andalusia sebagai panglima perang pasukan Islam, mengemban tugas dakwah untuk menaklukan kezaliman Raja Roderick dengan bahasa pedang. Atas keberhasilannya menaklukan Andalusia (Spanyol=pen), seorang sejarawan Barat, Philip K. Hitti memberikan komentarnya, “Penaklukan Spanyol adalah perjuangan pertama dan terakhir yang paling sensasional untuk bangsa Arab. Mereka berhasil menaklukan wilayah Eopa terluas dan memasukkannya dalam naungan kekuasaan Islam.”

Diakui, adanya penaklukan Andalusia memang berdampak luas kepada perubahan sosial di wilayah tersebut. Revolusi sosial meledak, kebebasan beragama diakui dan dijamin pemerintahan Islam. Mereka menjalankan dengan patuh, perintah wakil khalifah Islam di Afrika, Musa Bin Nushair yang mengatakan perubahan sosial positivistik ini menandakan Islam mampu membantahkan pandangan kalangan non Islam, bahwa jika Islam berkuasa maka berpotensi terjadi kekacauan besar.
Faktanya, Andalusia menjadi kawasan teraman dengan dua pilihan, penduduknya memeluk Islam atau membayar pajak kepada kekhalifahan islam.

Konsep keamanan penduduk Anadalusia itu tercermin dari perkataan Musa bin Nushair.
“Saya berwasiat kepada kalian semua, taatlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala  , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam   dan pemimpin kalian. Niscaya kalian akan bahagia dunia dan akhirat. Berperanglah kalian karena Allah Subhanahu Wata’ala   dan bukan karena harta ataupun nama. Saya berwasiat kepada kalian. Janganlah membakar tanaman ataupun desa dan pepohonan yang berbuah. Jangan membunuh wanita dan orang tua, kecuali jika mereka bersenjata dan jangan membunuh anak-anak. Jangan pula membunuh mereka yang berlindung di dalam rumah atau tempat ibadah”

Sungguh sebuah pesan halus, bermakna dalam dan menyiratkan kepastian betapa luhurnya adab perang dalam Islam. Modal ketaatan itu yang mengiringi sekitar 12 ribu prajurit terbaik Islam menaklukan Andalusia. Angka 12 ribu terhitung cukup besar, namun untuk memilihnya bukan persoalan mudah.Tapi kecerdasan emosional, spiritual dan intelektual Thariq bin Ziyad berbicara dalam memilih 1 ribu orang pasukan tersebut. Ketika dihadapkan kepada keputusan untuk memilih 12 ribu prajurit Thariq menetapkan standar spritualitas sebagai bekal bertarung di medan perang.

Dalam memilih dan memilah pasukan, Thariq menetapkan adanya dua indikator “prajurit Islam terbaik” yakni siapa di antara pasukan yang tak pernah meninggalkan shalaf fardhu dan tak pernah absen dalam menjalankan dwitunggal (shalat tahajud dan witir-pen).  Satu alasan strategis atas indikator Thariq adalah kekuataan spritualitas adalah fondasi dasar dalam menjemput kemenangan. Thariq belajar sepenuhnya bagaimana shalat menjadi lambang kekuataan orang beriman. Dengan shalat, pasukan Islam diajarkan tunduk kepada keputusan Allah Subhanahu Wata’ala   apakah akan memberikan kemenangan atau menjemput predikat mati syahid.

Strategi Menguji Militansi

Tak hanya memilih pasukan terbaik, untuk menjemput kemenangan di medan perang, pasukan Thariq bin Ziyad menerapkan strategi perang pilihan. Dalam persoalan perang, Thariq membagi pasukannya menjadi empat kelompok pasukan. Kelompok pertama, pasukan pemanah yang dipimpin Amir dan berada di garda terdepan. Pasukan kedua, pasukan berkuda dipimpin Sufyan bertugas menggempur musuh dari sayap kiri. Pasukan ketiga, pasukan pejalan kaki menyerang dari sayap kanan dan pasukan terakhir dipimpin Thariq sebagai pasukan pendukung ketiga pasukan yang terbentuk.
Pembagian pasukan itu, terhitung unik sebab panah yang dilepaskan dari busur akan membunuh terlebih dahulu pasukan musuh. Memakai pasukan panah di depan adalah kunci strategis untuk mengalihkan perhatian musuh hanya terarah kepada satu kelompok pasukan saja. Jika strategi itu berhasil, serangan sayap kanan dan kiri tentu tidak terduga. Apalagi Thariq menyiapkan pasukan pendukung yang tak mudah diprediksi lawan.

Tidak hanya membagi pasukan, Thariq juga menerapkan strategi perang yang terbilang gila untuk ukuran zamannya, Thariq meminta kapal perang yang membawa pasukannya dari Afrika ke Andalusia dibakar. Strategi ini dipakai sebab dikhawatirkan kelak kendaraan dan alat perang tersebut jatuh ke tangan musuh. Sambil berdiri di puncak Jabal Thariq, panglima perang terbaik Islam ini berpidato lantang;

“Di belakang kita lautan, di depan kita musuh. Kita tidak dapat melarikan diri. Demi Allah Subhanahu Wata’ala  , kita datang ke bumi Andalusia untuk menjemput syahid atau meraih kemenangan. Demi Allah Subhanahu Wata’ala jika kita mundur, lautan akan menenggelamkan kita. Jika kita maju, musuh telah menanti kita. Kita hanya memiliki senjata, jika kita tenggelam di laut, nama kita tercemar dan Allah Subhanahu Wata’ala   akan mencabut rasa gentar di hati musuh. Jika kita maju, Allah Subhanahu Wata’ala   akan membuat musuh takut. Syahid dan syurga menunggu kita. Allah Subhanahu Wata’alau Akbar,” teriak Thariq mengobarkan semangat pasukan Islam.

Buah Manis Spritualitas

Jika ditelusuri mendalam, ada faktor kunci dalam kemenangan perang yang dijalani kaum muslimin. Spritualitas keimanan yang mendalam. Pasukan Islam meyakini, berjihad tak mengenal batasan usia dan waktu perang. Ketika perang menaklukan Andalusia, pasukan Thariq bin Ziyad sedang menjalani puasa Ramadhan.

Dalam meniupkan semangat berjihad kepada pasukannya, Thariq menanamkan kata-kata motivasi, “Saya sangat menyukai ketika berpuasa dalam cuaca panas terik kita sedang bertempur melawan musuh Islam. Sesungguhnya lapar dan haus tak menghalangi kita berjihad di jalan Allah Subhanahu Wata’ala. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam   pernah beperang di bulan Ramadhan dan mendapatkan kemenangan.”

Pesan spritualitas itu tidak hanya dikumandangkan sekali saja, dalam kesempatan lain Thariq mengingatkan pasukannya agar beperang karena Allah Subhanahu Wata’ala, bukan karena amarah. Takutlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, bukan kepada musuh. Jika sudah datang waktu shalat, kerjakanlah dan jangan meninggalkannya. Jangan pernah takut mati, sebab kematian Allah Subhanahu Wata’ala   yang menentukan. Pendek, namun pesan itu mengandung makna dalam bahwa keyakinan untuk syahid adalah modal utam menjemput kemenangan yang dijanjikan Allah Subhanahu Wata’ala.*

Sumber : http://www.hidayatullah.com

Dalam kurun awal Islam kita temukan sosok-sosok muda: Ali bin Abi Tholib (8th), Zubair bin Awwam (8 th), Arqam bin Abil Arqam (11 th), Ja’far bin Abi Tholib (8 th) Shohih Ar Rumy (19 th), Zaid bin Haritsah (20 th) Saad bin Abi Waqash (17 th), Utsman bin Affan (20 th) Umar bin Khotobb (27 yh), Abu Ubaidah bin Jarroh (27 th), Abdurrahman bin Auf (30 th), Abu Bakar Ash Shidiq (37 th), Muhammad Al-Fatih (19), Salahudin Al-Ayubbi (28).


Sebab dalam jiwa muda lah Allah menyematkan karakter-karakter perubah: Kritis, dinamis, kreatif, inovatif, dan reaktif. Merekalah generasi-generasi penerus [2:132-133,25:74,19:42]; pengganti kaum sebelumnya [5:54,2:143], pembaharu/mujaddid dalam setiap masanya. Dalam kasus terakhir, Nabi SAW mengingatkan bahwa dalam setiap kurun 100 tahun akan selalu ada Pemuda yang kemudian menjadi Mujaddid (Pembela/Pembaharu Islam), diyakini bahwa abad 19 kemarin, sosok yang dimaksud adalah Muhammad Abduh Rahimahullah. Nah di abad ini, bisa saja pemuda yang dimaksud adalah anda?


"Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk" [ Al Kahfi:13] 

Rasulullah SAW banyak berpesan tentang betapa berharganya jiwa muda, hingga beliau mengingatkan kita untuk selalu menjaganya. Dalam Hadits riwayat Hakim, Beliau bersabda : 

“Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara ; masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang fakirmu, masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu”

Betapa masa muda menjadi pilihan pertama dalam pesan Nabi kita, maka bagaimana mungkin kita akan mengacuhkannya? Sebaliknya hal ini semestinya menjadi pemompa semangat kita yang masih muda untuk terus berkarya untuk umat dan kejayaan islam.


Nabi SAW pun pernah ditanya tentang apa yang akan dibalas dengan pahala atau siksa di hari kiamat, Beliau menjawab: 
”Dia akan ditanya tentang apa yang ia perbuat untuk masa mudanya”.(HR Tirmidzi) dan tentang aktivitas pemuda, Rasulullah SAW mengajarkan: “Sebaik-baik pemuda diantara kamu adalah yang mirip/seperti orang dewasa diantara kamu, dan sejelek-jeleknya orang tua diantara kamu adalah yang seperti pemuda diantara kamu” (HR. Baihaqi).
Pemuda yang terbaik adalah yang mampu berfikir jauh kedepan dan senantiasa bersikap bijaksana, Pemuda adalah mereka yang tak pernah berputus asa dan berkeluh kesah karena dalam hatinya Allah adalah segala muara aktivitasnya.


Beberapa pesan dari para pembawa perubahan dalam zaman ini, pernah suatu ketika Asy-Syahid Hasan Al Banna berpesan kepada sekumpulan pemuda disuatu siang 
“Hendaklah anda selalu mengindahkan dan memperhatikan Allah SWT, selalu ingat akan akhirat dan bersiap-siap unuknya. Tempuhlah semua kelakuan yang dapat menyampaikan anda pada keridhaan Allah dengan tekad dan kesungguhan. Dekatkanlah diri anda kepada-Nya dengan melestarikan ibadat-ibadat sunnah seperti Tahajud, Shoum tiga hari dalam sebulan, memperbanyak dzikir dalam hati dan ucapan serta membiasakan berdoa dalam segala hal yang diriwayatkan dari Rosulullah SAW”

Seorang tokoh Jihad Afghanistan yang dilahirkan di tanah Palestina, Asy- Syahid DR Abdullah Azzam mengingat semua Pemuda Islam, perhatikan pesannya ini :

“Wahai pemuda Islam….Engkau tumbuh dalam desingan peluru-peluru, dentuman meriam, raungan kapal terbang dan deru suara tank. Jagalah diri kalian ! Jangan terpengaruh oleh senandung lagu milik orang yang dibuai kenikmatan hidup. Jangan terlena oleh musiknya orang yang bermewah-mewahan dan kasurnya orang yang kekenyangan.”,



Sungguh apa yang beliau pesankan sangat menggetarkan hati, mengingat pemuda-pemuda yang dilahirkan di tanah juang Palestina dan Afghanistan. Maka kita termasuk beruntung dilahirkan di tanah Indonesia, yang berarti kesempatan untuk belajar dan mengumpulkan serpihan-serpihan ilmu teramat besar, tapi tanggung jawab kita pun tak kalah besar, Berdakwah agar para generasi islam berikutnya tidak terlena oleh zaman dan selalu cinta terhadap diinul islam.


Rasanya nasehat dari DR Abdullah Nasihih Ulwan perlu kita renungkan bersama,
"Ingatlah wahai pemuda muslim…., kalian tidak akan dapat meraih suatu kemenangan bila tanpa dibarengi dengan iman dan taqwa, muroqobah (mendekatkan diri) dengan Allah dengan sembunyi atau terang-terangan. Perbaikilah niatmu. Jagalah dirimu dari maksiyat dan dosa. Kuasailah hawa nafsu dan jauhilah dari fitnah kehidupan dunia."

Kemudian beliau menjelaskan dengan lanjut tentang bagaiamana misi Islam itu akan terwujud, beliau menuturkan bahwa hal ini bisa tegak dengan beberapa point dibawah ini :
1. Iman yang kuat [ Al Hujurat;15]
2. Keihlasan yang sungguh-sungguh [ Al bayyinah :5]
3. Tekad yang kuat tanpa rasa takut [Al Ahzab :39]
4. Usaha yang berkesinambungan [ At Taubah:105]



Ada sebuah kisah menarik untuk kita perhatikan sebagai hikmah, disaat dunia menjadi penghalang fokus kita sebagai seorang muslim dan mengganggu tercapai tujuan pembentukan pribadi muslim yang kaffah, maka Sayyidina Umar RA menawarkan solusi. Tatkala Umar RA tidak sabar menanti saat penaklukan Mesir di tangan Muslimin, beliau berkirim surat kepada panglima tertinggi : Amru bin Ash : 
“Amma ba’du. Sungguh aku heran atas kelambatan kalian, padahal kalian sudah bertempur selama dua tahun. Itu semua disebabkan karena kalian terlalu cinta terhadap kesenangan dunia sebagaimana musuh-musuh kalian. Padahal Allah sekali-kali tidak akan menolong suatu kaum sebelum dia membuktikan kesungguhan niatnya." .

kemudian beliaupun berkirim surat kepada Sa’ad bin Abi Waqash : 
"Aku berwasiat kepadamu dan kepada setiap tentaramu supaya senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam setiap keadaan. Karena Taqwa adalah sebaik-baik bekal dalam menghadapi musuh. Taqwa adalah strategi perang yang paling jitu. Dan aku perintahkan kalian supaya mawas diri dengan ketat dari maksiyat, lebih ketat dari mawas diri dari musuh kalian, karena dosa pasukan lebih berbahaya daripada serangan musuh.
Kaum muslimin baru mendapat pertolongan-Nya manakala musuh-musuh mereka telah tenggelam dalam kemaksiyatan kepada Allah. Kalau bukan karena itu tentu kekuatan kita tidak ada artinya dalam menghadapi mereka, sebab baik jumlah personil maupun persenjataan kita jauh berbeda dari mereka. Nah , kalau kita dan mereka setara dalam maksiyat, maka sudah barang tentu mereka akan lebih unggul dari kita. Wassalam.”

Benar sekali yang dikatakan Umar RA:
“Umat Islam adalah suatu kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Tetapi bila mencari kemuliaan diluar dari garis yang telah ditentukan-Nya, maka niscaya Dia akan menghinakanya." (HR Al Hakim)

Rasanya tidak ada alasan kita hanya berdiam diri dan hanya menjadi penonton dan pemerhati perubahan zaman, saatnya kita ambil bagian dalam goresan tinta emas kejayaan islam. Karena jika setiap kita (pemuda islam) punya satu tekad yang sama yaitu : Isy Kariman au Mut Syahidan (Hidup mulia sebagai muslim yang berkontribusi atau Mati Syahid di jalan Allah), insyaAllah lambat laun islam akan kembali menemukan kejayaan dan kemulian. Allahu Akbar !!

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. [At Taubah:105]
Sumber : http://muslimsinspirations.blogspot.com

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE