intro post

perkiraan buat header
Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Recent in Sports

Home Ads

Facebook

Comments

Ads

Pages

Random Posts

Latest Products

Tampilkan postingan dengan label fakta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fakta. Tampilkan semua postingan

90 TAHUN  yang lalu, tepatnya 3 Maret 1924 lalu secara resmi Khilafah Islam dihapus. Umat Islam pernah mengalami masa kejayaan pada tahun 750 – 1500. Setelah masa itu secara perlahan umat Islam mengalami degradasi yang puncaknya terjadi pada 3 Maret 1924 dimana Mustafa Kemal resmi mendirikan Republik Turki yang sekuler menggantikan Khilafah Utsmani.
Kekalahan Di Gerbang Vienna
Pada jaman Khilafah Abbasiyah, umat Islam menikmati kejayaan sains dan teknologi. Lalu pada jaman Khilafah Utsmaniyah, umat Islam mendapati wilayah terluas. Pada masa Sultan Fatih Mehmed II dan Khalifah Suleyman Qanuni, Islam sudah menjadi sangat kuat bahkan menguasai darat dan lautan. Namun sayangnya hal ini tak dimanfaatkan untuk memperbaiki pemahaman Islam. Terlena oleh berbagai kemenangan dan kemewahan hidup, pasukan Islam tertahan dan kalah di Gerbang Vienna pada tahun 1683. Dan itulah saat terakhir umat Islam melakukan jihad, titik tolak dari kemunduran umat Islam. Dan ini menjadi awal dari bangkitnya barat.
Awal Kebangkitan Barat
Saat jihad sudah ditinggalkan demi kesenangan dunia, barat mulai melakukan ekspansi militer dengan motonya 3G (Gold-Gospel-Glory). Barat mulai bergerak untuk menjajah negeri muslim. Penyebab lain dari runtuhnya kejayaan umat Islam adalah ditinggalkannya bahasa arab yang merupakan bahasa Islam (dan juga dapat menjadi bahasa pemersatu umat Islam). Dengan ditinggalkannya bahasa arab, maka semakin lemahlah pemahaman Islam.
Sultan-Sultan Mamalik pada awalnya mereka merupakan budak-budak yang akhirnya menggantikan bangsa Arab menjadi pemimpin umat Islam (Khilafah Islam). Masalah muncul sebab kaum Mamalik bukanlah orang arab dan kemudian tidak menjadikan bahasa arab sebagai bahasa ibu. Lalu terjadilah pemisahan “potensi Islam” dan “potensi bahasa arab” yang merupakan pokok dari pengetahuan dan ilmu dalam Islam. Rendahnya pemahaman Islam akibat ditinggalkannya bahasa arab dapat terlihat ketika Al-Qaffal menutup pintu ijtihad, sehingga umat resah.
Hal ini terus berlanjut hingga sekarang dimana di banyak negeri Islam, umat Islam tidak menjadikan bahasa arab sebagai bahasa ibu. Dan akhirnya munculah kasus-kasus seperti ini, “Apakah TV halal atau haram?”, “Bolehkah Al-Qur’an dicetak?” dan semisal.
Kemunduran cara berpikir umat Islam semakin lengkap ketika diserang oleh filsafat Persia dan Yunani yang mencampuri cara berpikir umat Islam. Pengaruh filsafat Persia sangat nyata dalam pemikiran tasawuf. Penyucian diri dengan cara menyiksa fiksi sebagai ganti ketinggian ruh. Filsafat Yunani juga secara nyata menyerang pemahaman tentang taqdir, qadha-qadar, hingga melahirkan fitnag khalqul qur’an gaya mu’tazilah.
Dan ketika pemahaman Islam melemah, ketakwaan kepada Allah memudar. Barat mulai berani meningkatkan serangan-serangannya. Akhir abad 16, Dimulai di Malta para misionaris mulai mengacaukan pemahaman umat Islam dengan membuat umat Islam ragu akan ajaran Islam. Perancis, Inggris serta Amerika Serikat juga bergabung menghancurkan umat Islam melalui paham nasionalisme.
Paham nasionalisme menyebar dan membuat umat Islam berpikir tidak lagi umat yang satu, yakni umat Islam, melainkan berpkir sesuai suku bangsa mereka seperti bangsa Arab, Turki, Mesir dan lain-lain. Salah satu tempat paham nasionalisme diajarkan adalah di Beirut. Dimana American University of Beirut didirikan pada tahun 1866.
Penjajahan Barat
Selain itu keruntuhan Khilafah juga terkait serangan fisik, peperangan dan imperialisme serta diikuti oleh perjanjian-perjanjian. Perjanjian Karlowitz 1699, Passarowitz 1718, Belgrade 1739, Küçük Kaynarca 1774, semuanya menghabisi wilayah kekuasaan Khilafah Utsmani.
Rusia mengambil wilayah Khilafah di bagian utara sampai berbatasan dengan laut hitam pada masa Catherine. Perancis menjajah Mesir pada tahun 1698, Aljazair pada tahun 1830, Tunisia pada tahun 1881, Maroko pada tahun 1912. Inggris menjajah India, China Barat, Sudan dan juga merebut Mesir dari Perancis. Wilayah umat Islam bagaikan hidangan yang diperebutkan.
Umat Islam semakin terpuruk akibat konflik internal yang terjadi. Pasukan Yeniseri sering melakukan pemberontakan. Dan akhirnya pasukan ini dibubarkan oleh Khalifah Mahmud II pada 1826. Akibatnya kekuatan umat Islam semakin berkurang karena tiadanya pasukan.
BERSAMBUNG
 sumber : islam pos


Dimanakah generasi pemuda islam yang prestatatif di zaman ini, yang mampu menggentarkan para musuh dengan teriakan takbir yang lantang ?

"Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk" [ Al Kahfi:13] 




“Di belakang kita lautan, di depan kita musuh. Kita tidak dapat melarikan diri. Demi Allah Subhanahu Wata’ala Subhanahu Wata’ala, kita datang ke bumi Andalusia untuk menjemput syahid atau meraih kemenangan”
Thariq Bin Ziyad, Panglima penakluk Andalusia


HAMPIR dalam semua literatur selalu menjelaskan dakwah bukanlah sesuatu yang berjalan mulus. Sebab pada dasarnya, dakwah adalah bahasa pergerakan yang penuh rintangan, fitnah dan tantangan yang tak sedikit. Kita dapat melihat bagaimana sejarah hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Pembunuhan dan ancaman kematian membayang dalam kehidupan sehari-hari sebagai konsekuensi logis atas kepemimpinan dakwah yang dijalaninya selama 36 tahun. Untuk itu, anda yang mengharapkan pujian, pengakuan, jabatan dan  segala kemanisan hidup, dapat dipastikan anda berada di arah yang salah jika mengharapkan itu semua datang di jalan dakwah.

Seperti kisah Thariq bin Ziyad, seorang budak belia dari suku Barbar di Afrika. Pertemuan dengan dakwah Islam membawanya ke medan perang, menghabiskan hidup bersama jihad fisabilillah. Siapa sangka, takdir Allah Subhanahu Wata’ala   membawanya ke bumi Andalusia sebagai panglima perang pasukan Islam, mengemban tugas dakwah untuk menaklukan kezaliman Raja Roderick dengan bahasa pedang. Atas keberhasilannya menaklukan Andalusia (Spanyol=pen), seorang sejarawan Barat, Philip K. Hitti memberikan komentarnya, “Penaklukan Spanyol adalah perjuangan pertama dan terakhir yang paling sensasional untuk bangsa Arab. Mereka berhasil menaklukan wilayah Eopa terluas dan memasukkannya dalam naungan kekuasaan Islam.”

Diakui, adanya penaklukan Andalusia memang berdampak luas kepada perubahan sosial di wilayah tersebut. Revolusi sosial meledak, kebebasan beragama diakui dan dijamin pemerintahan Islam. Mereka menjalankan dengan patuh, perintah wakil khalifah Islam di Afrika, Musa Bin Nushair yang mengatakan perubahan sosial positivistik ini menandakan Islam mampu membantahkan pandangan kalangan non Islam, bahwa jika Islam berkuasa maka berpotensi terjadi kekacauan besar.
Faktanya, Andalusia menjadi kawasan teraman dengan dua pilihan, penduduknya memeluk Islam atau membayar pajak kepada kekhalifahan islam.

Konsep keamanan penduduk Anadalusia itu tercermin dari perkataan Musa bin Nushair.
“Saya berwasiat kepada kalian semua, taatlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala  , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam   dan pemimpin kalian. Niscaya kalian akan bahagia dunia dan akhirat. Berperanglah kalian karena Allah Subhanahu Wata’ala   dan bukan karena harta ataupun nama. Saya berwasiat kepada kalian. Janganlah membakar tanaman ataupun desa dan pepohonan yang berbuah. Jangan membunuh wanita dan orang tua, kecuali jika mereka bersenjata dan jangan membunuh anak-anak. Jangan pula membunuh mereka yang berlindung di dalam rumah atau tempat ibadah”

Sungguh sebuah pesan halus, bermakna dalam dan menyiratkan kepastian betapa luhurnya adab perang dalam Islam. Modal ketaatan itu yang mengiringi sekitar 12 ribu prajurit terbaik Islam menaklukan Andalusia. Angka 12 ribu terhitung cukup besar, namun untuk memilihnya bukan persoalan mudah.Tapi kecerdasan emosional, spiritual dan intelektual Thariq bin Ziyad berbicara dalam memilih 1 ribu orang pasukan tersebut. Ketika dihadapkan kepada keputusan untuk memilih 12 ribu prajurit Thariq menetapkan standar spritualitas sebagai bekal bertarung di medan perang.

Dalam memilih dan memilah pasukan, Thariq menetapkan adanya dua indikator “prajurit Islam terbaik” yakni siapa di antara pasukan yang tak pernah meninggalkan shalaf fardhu dan tak pernah absen dalam menjalankan dwitunggal (shalat tahajud dan witir-pen).  Satu alasan strategis atas indikator Thariq adalah kekuataan spritualitas adalah fondasi dasar dalam menjemput kemenangan. Thariq belajar sepenuhnya bagaimana shalat menjadi lambang kekuataan orang beriman. Dengan shalat, pasukan Islam diajarkan tunduk kepada keputusan Allah Subhanahu Wata’ala   apakah akan memberikan kemenangan atau menjemput predikat mati syahid.

Strategi Menguji Militansi

Tak hanya memilih pasukan terbaik, untuk menjemput kemenangan di medan perang, pasukan Thariq bin Ziyad menerapkan strategi perang pilihan. Dalam persoalan perang, Thariq membagi pasukannya menjadi empat kelompok pasukan. Kelompok pertama, pasukan pemanah yang dipimpin Amir dan berada di garda terdepan. Pasukan kedua, pasukan berkuda dipimpin Sufyan bertugas menggempur musuh dari sayap kiri. Pasukan ketiga, pasukan pejalan kaki menyerang dari sayap kanan dan pasukan terakhir dipimpin Thariq sebagai pasukan pendukung ketiga pasukan yang terbentuk.
Pembagian pasukan itu, terhitung unik sebab panah yang dilepaskan dari busur akan membunuh terlebih dahulu pasukan musuh. Memakai pasukan panah di depan adalah kunci strategis untuk mengalihkan perhatian musuh hanya terarah kepada satu kelompok pasukan saja. Jika strategi itu berhasil, serangan sayap kanan dan kiri tentu tidak terduga. Apalagi Thariq menyiapkan pasukan pendukung yang tak mudah diprediksi lawan.

Tidak hanya membagi pasukan, Thariq juga menerapkan strategi perang yang terbilang gila untuk ukuran zamannya, Thariq meminta kapal perang yang membawa pasukannya dari Afrika ke Andalusia dibakar. Strategi ini dipakai sebab dikhawatirkan kelak kendaraan dan alat perang tersebut jatuh ke tangan musuh. Sambil berdiri di puncak Jabal Thariq, panglima perang terbaik Islam ini berpidato lantang;

“Di belakang kita lautan, di depan kita musuh. Kita tidak dapat melarikan diri. Demi Allah Subhanahu Wata’ala  , kita datang ke bumi Andalusia untuk menjemput syahid atau meraih kemenangan. Demi Allah Subhanahu Wata’ala jika kita mundur, lautan akan menenggelamkan kita. Jika kita maju, musuh telah menanti kita. Kita hanya memiliki senjata, jika kita tenggelam di laut, nama kita tercemar dan Allah Subhanahu Wata’ala   akan mencabut rasa gentar di hati musuh. Jika kita maju, Allah Subhanahu Wata’ala   akan membuat musuh takut. Syahid dan syurga menunggu kita. Allah Subhanahu Wata’alau Akbar,” teriak Thariq mengobarkan semangat pasukan Islam.

Buah Manis Spritualitas

Jika ditelusuri mendalam, ada faktor kunci dalam kemenangan perang yang dijalani kaum muslimin. Spritualitas keimanan yang mendalam. Pasukan Islam meyakini, berjihad tak mengenal batasan usia dan waktu perang. Ketika perang menaklukan Andalusia, pasukan Thariq bin Ziyad sedang menjalani puasa Ramadhan.

Dalam meniupkan semangat berjihad kepada pasukannya, Thariq menanamkan kata-kata motivasi, “Saya sangat menyukai ketika berpuasa dalam cuaca panas terik kita sedang bertempur melawan musuh Islam. Sesungguhnya lapar dan haus tak menghalangi kita berjihad di jalan Allah Subhanahu Wata’ala. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam   pernah beperang di bulan Ramadhan dan mendapatkan kemenangan.”

Pesan spritualitas itu tidak hanya dikumandangkan sekali saja, dalam kesempatan lain Thariq mengingatkan pasukannya agar beperang karena Allah Subhanahu Wata’ala, bukan karena amarah. Takutlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, bukan kepada musuh. Jika sudah datang waktu shalat, kerjakanlah dan jangan meninggalkannya. Jangan pernah takut mati, sebab kematian Allah Subhanahu Wata’ala   yang menentukan. Pendek, namun pesan itu mengandung makna dalam bahwa keyakinan untuk syahid adalah modal utam menjemput kemenangan yang dijanjikan Allah Subhanahu Wata’ala.*

Sumber : http://www.hidayatullah.com
Pemilik nama kecil Martin Thomson ini dikenal sebagai pengacara terkemuka di Inggris. Ia juga mengetuai Wynne Chambers, badan hukum Islam yang didirikannya pada 1994.

Berislam 38 tahun lalu, Thomson meyakini cara terbaik mengamalkan ajaran Islam adalah memahami dan meneladani sumbernya, yakni Alquran dan Sunah Rasulullah SAW. “Seperti pepatah yang mengatakan bahwa semakin dekat kita pada sumber mata air, semakin murni air yang kita minum,” ujar pria kelahiran Afrika ini.

Dilahirkan di Rhodesia Utara (sekarang Zambia), Thomson menempuh pendidikan dasar serta menengahnya di Rhodesia Selatan (sekarang Zimbabwe). Masa awal hidupnya, ia lalui di daerah-daerah terpencil Afrika yang kala itu belum tersentuh peradaban modern, seperti listrik, gas, dan saluran air bersih.

Lahir dan besar di Afrika, Thomson muda merasa tidak puas pada ajaran Kristen. Ia mulai mempertanyakan banyak hal seperti, “Jika setiap manusia itu sama di hadapan Tuhan, lalu mengapa kaum Afrika kulit putih seperti dia harus beribadah di gereja yang berbeda dengan kaum kulit hitam?”
Pertanyaan lain yang kerap mengganggunya sebagai pemeluk Kristen adalah soal ketuhanan Yesus. “Jika Yesus adalah Tuhan, kepada siapa dahulu ia berdoa? Jika Yesus adalah Tuhan dan disalib, lalu siapa yang menghidupi surga dan dunia? Pertanyaan itu tak pernah terjawab selama aku memeluk ajaran Kristen,” ujar lulusan Exeter University, Inggris, ini.

Ketika berusia 12 tahun, Thomson sampai pada satu titik di mana ia memercayai Tuhan dan Yesus. “Hanya saja, aku tidak yakin pada gereja.” Terhenti pada berbagai pertanyaan itu, Thomson mulai membaca apa pun dan memikirkan kehidupan yang dijalaninya sejauh itu. Ia mengunjungi berbagai kelompok spiritual dan mencoba meditasi selama beberapa bulan. “Itu menenangkan, tapi sama sekali tak mengubah gaya hidupku.”
Hingga akhirnya, Thomson bertemu Syekh Abdalqadir as-Sufi (tokoh tarbiyah, penggagas Gerakan Dunia “Murabitun”). Pertemuan itu menjadi awal perkenalannya dengan Islam, agama yang tak pernah terpikirkan oleh Thomson sebelumnya.

Saat berbicara dengan Syekh Abdalqadir dan mendengarkan berbagai hal yang disampaikannya, Thomson merasa telah menemukan jalan menuju transformasi yang ia butuhkan. “Sejak itu, perlahan aku menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang memenuhi otakku,” katanya. Thomson pun rutin mengunjungi pusat kajian Islam Syekh Abdalqadir. Ia juga membaca The Book of Stranger yang ditulis Sang Syekh.
Thomson mantap mengakhiri pencariannya pada 13 Agustus 1973. Ia pun mengikrarkan syahadat dan berhaji empat tahun kemudian. Sepulang haji, ia menyelesaikan pelatihannya sebagai pengacara. Lalu, pada 26 Juli 1979, ia dipanggil ke Pengadilan England & Wales dan mulai meniti karier di bidang advokasi dan hukum Islam.

Thomson pertama kali memperoleh perhatian publik pada 2001, saat tampil dalam sebuah film dokumenter berjudul My Name is Ahmed yang menyabet sebuah penghargaan. Ia pun tampil di film dokumenter lainnya, Prince Naseem’s Guide to Islam. Kedua film itu ditayangkan di BBC2 pada Agustus 2001. Setelah itu, wajahnya kerap mewarnai layar kaca dalam berbagai program, terutama program-program Islam.

1 1Kini, hari-harinya diisi dengan aneka kegiatan keislaman, mulai dari memberikan ceramah rutin tentang Islam di berbagai wilayah di Inggris, menulis untuk Jurnal al-Kala, sampai menjadi kontributor tetap dalam konferensi lintas agama yang digelar setiap tahun di Masjid Regents Park dan Pusat Kebudayaan. Beberapa buku karyanya yang cukup menggemparkan dan sangat sulit dicari terjemahannya , buku yang membongkar apa dan bagaimana  konspirasi Yahudi di dunia ini yang berjudul , yaitu Dajjal the Anti Christ  (bbrp/ROI/Eramuslim/HK)

Bila ingin memiliki buku tersebut, bisa kunjungi link ini :
Resensi Buku : Anda Akan Terkejut Baca Buku Ini, “Sistem Dajjal” , Karya Ahmad Thomson

Sumber : tulisandb.blogspot.com

Sang Terpilih (3)


Keterangan gambar: El Diablo Sign


Kesombongan dan keangkuhan memang watak dasar orang yahudi. Bahkan para pemandu wisata di pegunungan Himalaya maupun di taman margasatwa Serenggeti Tanzania, tahu hal itu. Mereka mengenal orang-orang yahudi dari keangkuhan mereka sebagaimana jorok serta pelitnya mereka memberikan tips.

Jangankan kepada goyim, alias binatang ternak, julukan orang yahudi untuk orang-orang bukan yahudi. Kepada sesama yahudi saja mereka saling berlagak. Orang yahudi sephardin mengejek yahudi ashkenazi dengan julukan "kike" dan orang yahudi ashkenazi mengejek yahudi falasha sebagai budak. Persaingan antara orang-orang yahudi sephardin dengan ashkenazi bahkan berujung pada Perang Krim dan Perang Dunia I karena niat orang-orang yahudi ashkenasi Jerman membangun jalur kereta api Berlin-Baghdad mengancam dominasi laut orang-orang yahudi sephardin Inggris. Baru setelah Napoleon dan Hitler mengancam kepentingan bisnis mereka, orang-orang yahudi itu bersatu.

Sebenarnya orang-orang yahudi itu bukan orang yahudi yang sebenarnya sebagai keturunan Ibrahim, Musa dan Daud. Orang-orang yahudi sephardin dan ashkenazi adalah keturunan orang-orang Khazar yang berasal dari sekitar Laut Kaspia. Sedangkan orang-orang yahudi falasha adalah orang-orang kulit hitam keturunan Ratu Sheba dari Ethiopia. Orang-orang yahudi keturunan Ibrahim yang sebenarnya justru orang-orang Palestina.

Oh ya, Subagyo memang banyak membaca sejarah orang-orang yahudi karena suatu peristiwa yang sangat penting dalam hidupnya. Tidak lama setelah peristiwa pesta di rumah senator yang berakhir di ranjang sebuah hotel dengan seorang pelacur, Subagyo mendapat undangan untuk mengikuti sebuah "acara yang sangat eksklusif", demikian teman Subagyo yang anak senator terkenal itu menyebutnya. "Hanya orang-orang penting dan pilihan saja yang bisa mengikuti acara ini," kata teman Subagyo.

Ternyata Subagyo "dipaksa" menjalani inisiasi (perploncoan) sebagai anggota sebuah organisasi freemason. Awalnya ia menolak saat diharuskan berpakaian wanita dan bertingkah laku seperti monyet. Namun setelah diperlihatkan video rekaman perselingkuhannya dengan pelacur di hotel tempo hari, ia tidak punya pilihan lain. Apalagi setelah sang senator kemudian menjanjikan untuk menjadikan Subagyo sebagai orang nomor satu di Indungsia.

Saat ditanya mengapa dirinya yang dipilih, sang senator menjawab bahwa Subagyo memiliki darah suci yahudi yang diturunkan dari Snouck Horgronje.

Orang Indungsia tentu tidak banyak yang tahu bahwa setelah kolonialis Belanda berhasil menundukkan orang-orang Islam yang militan di sebuah propinsi yang menolak dijajah, Snouck Horgronje kembali ke negeri asalnya dengan meninggalkan beberapa istri dan anak-anak. Setibanya di Belanda ia kembali memeluk agama Katholik. Jasadnya pun kini berbaring di pemakaman Katholik. Namun sebenarnya ia tidak pernah betul-betul memeluk Katholik, karena diam-diam ia tetap melakukan ritual-ritual penyembahan berhala sebagaimana dilakukan leluhurnya.

Apa yang membuat Jendral Subagyo termenung setelah menjalani "fit & propher test" adalah karena ia diharuskan melakukan selebrasi "el diablo sign" saat berpidato menyambut kemenangan pemilihan presiden. "Organisasi" memang menjamin ia akan memenangkan pemilihan presiden dalam satu putaran. Tentu saja karena peralatan komputer yang digunakan komisi pemilihan umum dibuat di Israel, sebagaimana juga alat-alat penghitungan suara yang digunakan di Amerika dan negara-negara barat lainnya.

Menurut perhitungan Subagyo, terlalu beresiko melakukan tanda "el diablo". Karena internet, kini sudah terlalu banyak orang awam yang tahu kalau tanda itu hanya dilakukan oleh para penyembah berhala. Dan resiko itu, di Indungsia khususnya, sangat besar mengingat fanatisme agama rakyat yang masih sangat tinggi. Subagyo ingat bagaimana orang-orang komunis, yang tidak lain adalah binaan "organisasi", dibantai rakyat tahun 1960-an setelah terbongkar kedoknya.

Maka ia mengusulkan cara lain untuk menunjukkan kesetiaannya pada "organisasi".

Bersambung ........

Sumber : Cahyono-adi.blogspot.com

Sang Terpilih (2)



Keterangan gambar: lukisan tentang upacara inisiasi sebuah organisasi rahasia


Saat jam menunjukkan angka 12 malam dan para wanita telah lama meninggalkan ruangan, tiba-tiba muncullah dua orang wanita muda cantik berpakaian minim yang memegang kunci mobil. Wanita itu menyerahkan kunci mobil itu, yang ternyata adalah kunci mobil sport Ferrari seri terbaru, kepada Subagyo. Saat ia dilanda kebingungan, sang senator tuan rumah menghampirinya dan mengatakan kepadanya, mobil itu boleh dibawa kemanapun, beserta wanita cantik yang menyerahkan kuncinya. Dan saat ia dilanda kebingungan antara segera membawa pergi "buah segar yang ranum" itu atau menolaknya mengingat ia adalah seorang anak kiai yang dikenal cukup alim, putra sang senator sudah menyeretnya keluar menuju mobil Ferrari yang telah menanti di depan rumah. Tidak lama kemudian mereka berempat telah meluncur membelah kota New York.

Singkat cerita, pagi harinya Subagyo mendapati dirinya berada di sebuah kamar hotel mewah, di samping tubuh molek seorang wanita cantik.

Subagyo sangat menyesali apa yang telah menimpa dirinya semalam. Pikirannya kembali ke tanah air dimana Lastri, istrinya setia menunggu kepulangannya. Yah, mereka memang sepasang pengantin baru. Memang tidak secantik wanita yang tergolek di sampingnya itu, bahkan menurutnya bokong Lastri kelewat besar dengan hidung besar bertahi lalat di ujungnya. Namun Lastri, tipikal wanita negerinya, adalah wanita setia. Di samping itu ia anak seorang jendral terkenal di negerinya yang turut berjasa membuat Subagyo diterima di akademi militer. Hanya saja karena kelewat idealis, karier mertuanya berakhir tragis. Ia dipecat setelah berani menampar seorang pengusaha keturunan Cina yang secara kurang ajar datang ke istana negara bercelana kolor. Karena ternyata sang pengusaha cina itu ternyata besannya presiden Indungsia.

"Aku tidak ingin bernasib sama," gumam Subagyo setiap kali mengingat nasib calon mertuanya itu.

Tekad "tidak ingin hidup miskin" memang sangat kuat di dalam batin Subagyo. Itulah sebabnya ia tidak berlama-lama menyesali perzinahannya dengan "pelacur profesional New York pembawa kunci mobil". Bukankah kini terbuka peluang besar untuk menjadi pejabat penting di Indungsia setelah ia menyelesaikan pendidikannya? Ia hanya sedikit merasa khawatir kalau-kalau adegan percintaannya di kamar hotel itu ternyata direkam oleh orang-orang yang ingin memperalatnya sebagaimana biasa dilakukan dinas inteligen Amerika, juga dinas inteligen Israel, Mossad.

Kembali ke sosok George Soros, Jendral Subagyo sebenarnya membenci setengah mati pria yahudi askenazi ini. Ialah yang telah menghancurkan ekonomi Indonesia dan ekonomi negara-negara Asia Timur lainnya waktu terjadi krisis moneter tahun 1997. Jauh sebelumnya ia juga telah menghancurkan ekonomi negara-negara Eropa Timur. Dan dari puing-puing kehancuran itu, ia mengeruk keuntungan yang tiada tara.

Dalam kasus krisis moneter tahun 1997, Soros memborong dolar di pasar uang negara-negara Asia Timur hingga membuat dolar menjadi langka. Akibatnya nilai tukar dolar langsung melonjak karena di samping terjadi kelangkaan, permintaan dolar juga sedang tinggi karena negara-negara di kawasan tersebut membutuhkan mata uang itu untuk membayar hutang jangka menengah yang jatuh tempo. Semuanya terkait juga dengan apa yang dilakukan para penulis yahudi seperti Alvin Toffler, yang pada akhir dekade 1980-an dan awal 1990a-an memprovokasi negara-negara Asia Timur untuk melakukan pembangunan besar-besaran guna mengantisipasi munculnya "jaman keemasan Asia Timur" yang digembar-gemborkan Toffler dan teman-temannya. Sayangnya demi menggenjot pembangunan itu negara-negara Asia Timur harus mengandalkan hutang dari bankir-bankir Eropa dan terutama Amerika. Dan saat mereka membutuhkan dolar untuk membayar hutangnya, Soros sudah duluan memborongnya dan baru bersedia menjual kembali dengan kurs baru yang telah melonjak berkali-kali lipat. Bisa dibayangkan berapa besar keuntungan Soros dengan tindakannya itu.

Namun semua itu belum berakhir. Ketika perekonomian negara-negara Asia Timur, khususnya Indonesia, hancur tanpa terjadi peperangan atau bencana alam, George Soros datang kembali menawarkan "bantuan" yang sebenarnya adalah pemerasan. Dengan agak memaksa, Soros, dengan menggunakan bendera IMF tentunya, menawarkan pinjaman untuk mengatasi kesulitan keuangan negara-negara yang dilanda krisis dengan syarat Indonesia menjual murah BUMN-BUMN dan aset-aset strategis lainnya kepada para "investor" yang sebenarnya kaki tangan bankir yahudi.

Itulah permainannya. Sangat jelas dan gamblang. Dan sudah terjadi berkali-kali dalam sejarah manusia. Soros, para bankir serta Alfin Toffler, semuanya yahudi.

Namun bukan itu semua yang membuat Jendral Subagyo sangat membenci Soros. Melainkan sikap angkuhnya itulah yang membuat Subagyo sangat membencinya. Bayangkan saja, pernah tengah malam ia meneleponnya untuk menanyakan sesuatu yang tidak terlalu urgen. Keangkuhan lebih jelas lagi tercermin pada gaya bicara serta tingkah lakunya.

Bersambung .........

Sumber : Cahyono-adi.blogspot.com

Sang Terpilih



Keterangan gambar: Calon raja Inggris, Pangeran Harry, dalam sebuah upacara inisiasi suatu organisasi rahasia


Jendral Subagyo termenung memikirkan apa yang baru saja diterimanya dari pertemuan dengan "komisi" yang diadakan di sebuah hotel mewah di kawasan Manhattan, New York. Atas permintaan George Soros, ia sebagai calon presiden Indungsia yang telah dilantik menjadi anggota "organisasi" sejak menjadi peserta pendidikan di West Point, 30 tahun lalu, ia harus menjalani "fit and proper test" yang diadakan "komisi tertinggi organisasi". Dari George Soros pula ia tahu bahwa semua presiden Indungsia harus menjalani test seperti ini.

George Soros adalah salah seorang di antara anggota "komisi tertinggi". Meski George Soros tidak pernah mengatakannya, Jendral Subagyo tahu, ada ia dan para anggota "komisi" lainnya sebenarnya bekerja untuk orang-orang yang kedudukannya lebih tinggi di "organisasi". Desas-desus menyebutkan, orang-orang di belakang layar itu adalah para bankir yahudi dari Eropa dan Amerika yang dipimpin oleh salah seorang anggota keluarga Rothschild. Kekayaan mereka bahkan menjadikan Bill Gates dan Warren Buffet bagaikan pengemis di hadapan mereka. Bukankah Gill Gates dahulu pernah mengemis-ngemis pekerjaan kepada IBM, salah satu cicit perusahaan anggota komisi? Namun tentunya demi menjaga kerahasiaan mereka, Bill Gates dan Warren Buffet-lah yang diorbitkan media massa sebagai orang-orang terkaya di dunia. Dan untungnya Bill Gates dan Warren "Tukang Tipu" Buffet menikmati gelar yang diberikan kepada mereka sebagai orang-orang paling kaya di dunia. Sebagaimana juga Mukesh Ambani. Bahkan saking bangganya namanya disebut sebagai salah seorang terkaya di dunia oleh Forbes, Mukesh, turunan prajurit Alengka dalam mitologi Hindu itu, langsung "unjuk gigi" dengan membangun rumah pribadi setinggi gedung 60 tingkat dengan harga mencapai 1 miliar dolar di Bombay. Padahal lebih dari separoh penduduk di negerinya tinggal di gubuk-gubuk reyot dan kolong jembatan.

Testnya sendiri tidak terlalu sulit, hanya menjawab apakah bersedia melakukan "ini" dan "itu" setelah dilantik menjadi presiden kelak. Itu saja. Namun "ini" dan "itu" di sini adalah menyangkut nasib 250 juta rakyat Indungsia. "Ini" dan "itu" di sini berarti bisa membawa rakyat Indonesia bertambah makmur. Namun sayangnya dari analisis singkat sang Jendral, semua itu hanya membawa kesengsaraana rakyat. Contoh paling gamblang adalah permintaan "organisasi" untuk menghapuskan sama sekali subsisi BBM di Indungsia. Maksudnya adalah agar harga BBM menyamai harga internsional sehingga perusahaan-perusahaan minyak asing bisa menambah keuntungan bisnis minyaknya di Indonesia. Padahal selama ini sama sekali tidak ada subsidi BBM yang dikeluarkan pemerintah untuk rakyat. Perusahaan minyak di Indungsia mengambil minyak gratis dari perut bumi, menyulingnya dengan biaya 10 dolar per-barrel, dan menjualnya dengan harga 50 dolar per-barrel. Dengan total produksi mencapai 1 juta barrel per-hari, perusahaan minyak itu untung 40 juta dolar per-hari, atau 14.6 miliar dolar setahun, alias 145 triliun rupiah setahun. Pemerintah sendiri hanya mendapatkan pajaknya sebesar 10% dari keuntungan itu.

Tapi bahkan keuntungan sebesar itu dirasa masih kurang. Maka dengan alasan pengurangi subsisi, harga minyak akan dinaikkan lagi. Padahal subsidi di sini hanya sebuah ilusi belaka. Seolah-oleh karena harga minyak internasional mencapai 70 dolar per-barrel, pemerintah menanggung subsidi 20 dolar per-barrel, yaitu selisih harga minyak internasional dengan harga minyak dalam negeri. Padahal kenyataannya pemerintah dan perusahaan minyak tetap menikmati keuntungan besar, tidak peduli berapa tinggi harga minyak internasional. Dan anehnya, rakyat tenang-tenang saja menghadapi "kegilaan" ini. Tentu saja ini semua berkat "mantra" media massa yang dihembuskan para politisi, birokrat, dan para pengamat ekonomi. Ia tahu, para politisi, birokrat dan pengamat, termasuk para "wartawan senior" itu adalah para "yunior"-nya di "organisasi".

Mengingat "organisasi", pikirannya kembali ke masa 30 tahun lalu saat menjadi peserta pendidikan di akademi militer paling terkenal di dunia, West Point. Ia yang memiliki IQ tinggi meski sering gamang dalam mengambil keputusan, adalah taruna lulusan terbaik akademi militer di Indungsia. Dan karena adanya hubungan militer antara Indungsia dan Amerika, ia dan 9 taruna terbaik lainnya, sebagaimana 10 taruna terbaik lainnya setiap tahun, berhak mengikuti pendidikan di West Point.

Pada suatu hari, Subagyo yang saat itu masih Letnan, menghadiri sebuah pesta yang diadakan keluarga teman kuliahnya dari Amerika yang merupakan anak dari seorang senator terkenal. Saat pertama datang di Amerika, ia sudah mengalami "culture shock" yang luar biasa. Maklum ia hanya anak desa dari Capitan, meski orang tuanya cukup terpandang sebagai seorang kiai. Namun dalam pesta itu ia mengalami "culture shock" yang jauh lebih hebat.

Bersambung ...........

Sumber : http://cahyono-adi.blogspot.com
Islam adalah nama (ismun), nama bagi suatu “Dien” seperti dalam firman Allah: “Warhoditu Lakumul Islaama Diina…” (dan kuridhai bagimu Islam sebagai Dien) (QS 5/3).

Al-Islam itu sendiri diambil dari bahasa arab yang memiliki arti: Aslama (tunduk/ menyerah),Assalaam (menyelamatkan), Assilmu (damai) danassulaam (tangga). Dengan demikian maka Dinul Islam adalah Dien yang berporos pada kepasrahan hamba kepada Allah, yang dengan ketundukannya manusia akan menemukan ketentraman jiwa, ketinggian derajat dan keselamatan jiwa raga, dunia dan akhirat.

Karena Islam itu adalah Dien, maka sangat pentinglah kita membongkar makna / pengertian Ad-Dien itu, sehingga kita dapat dengan persis memahami apa itu Islam.

 Ad-Dien dalam padanan bahasa Indonesia diartikan dengan istilah AGAMA. Pengalihan dari terminology “Dien” kepada term “AGAMA” tidaklah semuanya tepat. Sebab Agama (terutama) dalam pengertian yang berkembang dimasyarakat adalah suatu tata aturan kepercayaan dan hubungan dengan Tuhan / Dewa, sperti yang dijelaskan dalam Kamus Besar bahasa Indonesia.

 Tentu saja sangat keliru dan mengandung potensi menyesatkan jika Dien diartikan hanya sebatas “Kepercayaan” dan hubungannya dengan Tuhan. Mari kita periksa maksud Allah didalam Al-Qur’an. 

Didalam Qur’an, term DIEN digunakan dalam beberapa penggunaan:
Undang-Undang (hukum / aturan) Kerajaan, dalam QS 12/76. Dalam ayat itu disebut“Diinil Maliki” yang artinya Undang-undang
Kerajaan. Lihat juga Qs 24/2, 42/13, 24 dll.
Kekuasaan, dalam QS 56/86-87. Dalam ayat itu disebut “Madiiniin” yang artinya KEKUASAAN.
Ketaatan, dalam QS 98/5. Dalam ayat itu ad-dien diartikan Ketaatan.
Pembalasan / sangsi, dalam QS 1/4. Dalam ayat itu Addien diartikan pembalasan / sangsi.

 Dari pengertian diatas dapatlah kita simpulkan bahwa dien adalah SUATU SISTEM KEHIDUPAN YANG DIDALAMNYA TERDAPAT SISTEM HUKUM, SISTEM KEKUASAAN (PEMERINTAHAN) DAN SISTEM KETAATAN MASYARAKAT (SISTEM KEMASYARAKATAN), YANG MANA SISTEM HIDUP ITU MEMILIKI KEKUATAN UNTUK MEMAKSA MASYARAKAT YANG ADA DIDALAMNYA UNTUK TAAT KARENA JIKA TIDAK PASTI AKAN MENDAPAT SANGSI.

Sistem kehidupan yang terdiri dari Sistem Hukum, Sistem Pemerintahan dan Sistem ketaatan itu, zaman sekarang lebih dekat dengan pengertian “state” (Negara). Sebab Negara itu memiliki ketiga unsur Dien seperti yang diungkapkan Qur’an. Dan Negara adalah Institusi social yang bersifat memaksa dan dapat memberi sangsi kepada rakyatnya, jika melanggar aturan.

Al-Qur’an menjelaskan lebih visual tentang Dien ini dengan kisah Fir’aun (QS 40/26-29). Kerajaan Fir’aun sebagai system pemerintahan dinegeri Mesir ketakutan akan gerakan Nabi Musa As yang dikuatirkan akan membuat revolusi bagi “Dien” (system hidup) mereka dengan Dien yang dibawa oleh Nabi Musa. Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar DIEN-MU atau menimbulkan kerusakan di muka bumi".. (40/26). Apa yang dikuatirkan oleh Raja Fir’aun, bukanlah isapan jempol. Sebab sebelumnya Nabi Musa memproklamirkan “KERAJAAN”.

Tentu saja kerajaan yang didirikan Musa adalah kerajaan Islam. “(Musa berkata): "Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita! Fir'aun berkata: "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar".. (40/29).

Berdasar QS 40 ayat 26 dan 29, Fir’aun adalah Raja bagi kerajaan Mesir dan Qur’an menyebutnya " Dien-nya Fir’aun". Nabi Musa adalah Raja bagi kerajaan Islam dan Qur’an menyebut sebagai "Dien" yang akan dimenangkan Musa diatas Dien-nya Fir’aun. 

Disini nampaklah secara visual makna Dien yang dimaksud Al-Qur’an yaitu system hidup, yang pada masa Nabi Musa di nampakan adanya dua system Hidup, yaitu KERAJAAN MESIR yang dipimpin oleh Fir’aun dan Kerajaan Islam yang dipimpin oleh Nabi Musa.

Tentu saja diwilayah yang sama tidak mungkin ada dua kerajaan kecuali yang satu sudah mapan (merdeka) dan yang satunya sedang BERJUANG (terjajah), negara yang belum memiliki wilayah yang dikuasai secara de facto. Kalau zaman sekarang (mungkin) istilah "Dien" sepadan dengan istilah Negara seperti amerika, Inggris, Arab Saudi dan lain-lain.

ISLAM adalah Dien, tidak dapat dibandingkan dengan agama Kristen, agama Yahudi, kecuali dengan kerajaan kristen, kerajaan Yahudi, negara sekuler dan lain lain. Sangatlah tidak sepadan jika istilah Dien dipadankan (dalam bahasa Indonesia) dengan pengertian agama. Dien Islam berarti system hidup Islam yang wujudnya adalah Kerajaan / Negara yang bersumberhukumkan Al-Qur’an.

Kesimpulannya: ISLAM adalah nama bagi suatu Dien Dien adalah sistem hidup yang divisualkan oleh Allah dalam Qur'an seperti KERAJAAN FIR'AUN Kerajaan / negara adalah wujud Ad-Dien, bisa dalam pengertian Negara yang sudah berkuasa secara de facto seperti kerajaan Fir'aun atau bisa juga Negara yang sedang berjuang seperti Kerajaan Musa

Kerajaan Fir'aun adalah Dinul Bathil karena tidak bersumber hukum Kitab Allah, sementara Kerajaan Musa adalah Dinul Haq karena bersumber hukumkan KITAB ALLAH ISLAM adalah Dinul Haq
 *Pengantar Dinul Islam No. 2*

Sumber : militansicerdas.blogspot.com

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE